Kesulitan belajar anak, tanggungjawab siapa?

Kalau anak tidak bisa dalam ujian, siapa yang harus bertanggung jawab? Anak itu, guru, atau orang tua?

Tadi pagi jam 7, saya dan Ina (istri saya) pergi ke SMP anak saya di Bandung. Kami dipanggil guru kelas 1 anak ketiga saya Andria (12 thn), karena nilai UTS nya jeblog. Kami diperlihatkan daftar nilai-nilai ulangan Andria. Lucu ya, saya sebagai bapaknya lebih memperhatikan nilai-nilai yang tinggi-tinggi, sedangkan Ina dan bu guru lebih melihat nilai-nilai yang rendah. Saya bangga, mereka ketakutan.

Untung guru-guru SMP ini baik-baik. Ina dan saya minta pengertian agar guru-guru bisa lebih memperhatikan Andria. Mungkin dia malu, karena banyak anak pintar di kelasnya. Jadi bila tidak mengerti, dia tidak bertanya. Mudah-mudahan kami bisa menemukan cara membantu Andria.

Anyway, saya pikir memang diperlukan ilmu untuk mengajar. Terlalu banyak pendidik yang saat ini terpaksa harus mengejar target bahan ajar. Jadi kebutuhan anak untuk dibukakan pengertiannya tidak begitu terpenuhi. Kita perlu ilmu untuk membuat anak mampu belajar.

”image”height=”96”

Marco, Armein, Andria (2005)

Marco (8 thn), anak saya yang keempat sering keteteran juga. Pelajaran dari kelas 2 SD seabreg-abreg. Ina harus turun tangan setiap sore mengajarinya. Nanti gurunya melaporkan hasil ujian. Seakan-akan polanya: guru memberikan soal, orang tua melatih di rumah, dan guru memberikan ujian dan nilai. Walah, apa memang begitu?

Jadi, kalau anak tidak bisa dalam ujian, siapa yang harus bertanggung jawab? Anak itu, guru, atau orang tua? Semoga pakar-pakar pendidikan Diknas bisa menjawab. Sementara itu, saya mau pulang dulu untuk ke rumah setiap sore, meninggalkan tugas-tugas kantor.

Mau mengajarkan Andria matematika…


  1. Anak saya yang kedua, punya problem sama. Sering jeblog ulangannya. Persoalannya sudah ditemukan: ADHD, atau kekurangmampuan konsentrasi. Apakah mungkin punya problem yang sama? Salah satu inidkator yang mudah. Ajak bicara saja, suruh menatap kita, kalau tidak bisa menatap lama-lama, terus matanya mulai mencari perhatian lain, mungkin punya persoalan yang sama dengan anak saya. Semoga tidak!

    Anak seperti itu biasanya punya IQ di atas rata-rata, tapi karena kurang mampu berkonsentrasi, banyak knowledge yang harusnya bisa diserap dari lingkungannya jadi tidak terserap.

  2. ibu

    Memang keterlaluan sekolah-sekolah sekarang. Sudah bayar mahal, harus ngajar di rumah. Harusnya kita dapat diskon dari sekolah

  3. azrl

    Ibu: ia harusnya mamanya dibayar sama sekolahan ya, kan capek ngajarin

  4. azrl

    AAA:
    Kalau Andria sih waktu SD nya tidak apa-apa. Jadi mungkin di SMP ini kaget dengan sekolah yang “kompetitif” ya.

    Memang menurut saya sih kuncinya adalah menemukan cara yang tepat untuk menstimulasi anak belajar ya. Dan ini memang unik untuk setiap anak.

    Dan juga bergantung guru nya. Saya ingat guru SD saya kelas 4 yang berhasil membuat saya bisa semangat belajar.

    Cuma agak aneh ya, dulu rasanya kita bersekolah tidak se berat anak-anak sekarang, ya? Atau cuma perasaan kita saja

  5. Betul Pak Armein, rasanya banyak pelajaran yang ditarik ke bawah. Pelajaran yang dulu kita pelajari di SMA banyak yang sudah turun ke SMP. Saya untuk membantu PR anak saya yang SMP saja harus buka-buka buku dulu!

    Apakah seharusnya memang begini ya?

  6. Kesulitan belajar anak, tanggungjawab siapa? Tentu saja tanggung jawab …………………..guru …………………..ibu
    …………………..bapak …………………..pemerintah
    …………………..dan tidak ketinggalan anak itu sendiri

    semua orang bertanggung jawab

    guru : dalam hal ini bertanggung jawab dalam MENDIDIK serta MEMBIMBING siswa tidak hanya mengajar, memberi serta menyampaikan materi, BUKAN memberi PR yang numpuk kepada siswa. bukannya kalo guru memberi PR ke murid juga secara tidak langsung merugikan guru juga (khan harus koreksi…hehehe), kalo saya pribadi pengen punya guru seperti : Eikichi Onizuka dalam serial drama jepang “Great Teacher Onizuka”. dalam serial ini, onizuka merupakan guru yang dapat memotivasi siswa untuk belajar, serta membimbing siswa sehingga siswa yang bersangkutan dapat merasa senang untuk belajar serta dapat menemukan bakat dalam diri masing-masing siswa.

    ibu dan bapak : belajar bagi anak tidak hanya cuma di sekolah yang notabene hanya memberikan materi yang berhubungan dengan aspek kognitif (capability serta creativity) tapi dirumah juga perlu ditekankan pendidikan yang menekankan pada pembentukan karakter pada anak tersebut (EQ) yang meliputi : capacity,credibility, commitment serta compatibility.

    pemerintah : ya pemerintah juga bertanggung jawab karena pemerintahlah yang menyusun kurikulum pendidikan yang harusnya sesuai dengan kemamouan anak di usianya. Sedikit krtikan dari saya, menurut saya kurikulum di indonesia termasuk terlalu “berat”, hal ini dikarenakan terlalu banyak mata pelajaran yang harus di tempuh oleh siswa yang bersangkutan dalam satu tahun ajaran. Sebaiknya jumlah mata pelajaran harusnya dikurangi dan diselingi suatu pelajaran yang berisi tentang motivasi serta entrepreneurship.

    Anak itu sendiri : anak dalam hal ini sebagai siswa bertanggung jawab juga atas proses bejar yang terjadi. kalau anak tersebut malas …ya tentu saja salah satu resikonya tidak naik kelas.

  7. Mendiskusikan cara mengajarkan anak, adalah diskusi yang menarik. Apalagi, kalau yang mengemukakan adalah Bapak-bapak dosen … pasti saya perhatikan dan ikuti. Kapan-kapan saya juga akan posting juga diblog saya. Untuk sementara salam kenal saja dulu ya Pak.

    Salam,
    Hari Jonathan
    http://harijonathan.wordpress.com

  8. azrl

    Mas Harjo, salam kenal juga, dan thanks for the visit.

    Mas Pram, excellent points. Agree. Istri saya baca sambil mengangguk2 setuju. Saya senang bagian Onizuka itu. Jadi saya tidak mau lagi mengajar matematika pada Andria, saya mau mendidik Andria untuk belajar.

  9. Pak AAA, anak pertama saya 12 th juga didiagnosa ADD sejak kecil. Kapan-kapan saya ingin share pengalaman (belum sempat nulis-nya).

  10. Setiap anak sudah dibekali kelebihan dan kelemahan masing-masing Pak….. so orang tua dan guru yang mesti pandai-pandai mengarahkan….ada anak yang lebih cocok dengan stimulus verbal, ada yang visual, ada yang kinestetik… ada yang gabungan…. yang sering terlupakan, di sekolah semua anak diperlakukan sama…. jadinya kadang berbenturan Pak dengan mindset si anak…. akibatnya ya salah satunya bisa ke nilai tadi….. ada gak ya sekolah yang menerapkan rangking tidak ansich berdasarkan nilai (yang berskala 1-10 atau 1-100 itu)?….

    (ada sebuah test yang sudah ready untuk mengetahui strength weakness or bakat kita ada dimana, sayang belum bisa dicobakan ke anak2….saya sudah sampaikan ke pembuatnya untuk memodifikasi supaya bisa digunakan mendeteksi dini bakat anak2 dengan cara meminta ayah-ibu-guru nya yg mengisi…. mudah2an bisa jalan…)….

  11. Jawabnya bisa tanggungjawab anak, ortu dan guru, seperti koment mas pramudya. Yang mungkin jadi perdebatan porsi tanggung jawab dan urutannya kali.

    Anak, karena memang belajar mrpk kegiatan yang hrs dialami sendiri oleh learner, siapapun tak dapat mewakili orang lain ntuk belajar.
    Agar proses belajar berhasil baik, anak belajar perlu fasilitasi dan bimbingan. Di sini ortu bertanggungjawab, termasuk membawa anak ke sumber belaar (sekolah, guru).
    Secara profesional, gurulah yang bertanggungjawab untuk memfasilitasi dan membimbing anak didik. Peran utama guru bukanlah menyajikan materi ajar, melainkan membuat anak didiknya belajar.
    Saya salut pada pak Armein yang begitu peduli degan hasil belajar anaknya. Namun, bagi saya nilai ulangan, raport atau UN tak selamanya bisa menggambarkan kemampuan/ hasil belajar anak kita. Sistem evaluasi belajar yang dipake di sekolah, menurut saya belum mampu mengukur kemampuan siswa yang sesungghnya. Nilai raport, cenderung kognitif dan temporer. Mestinya tidak begitu.

    Jadi, ah nggak jadi ah. Udah panjang. Sekali lagi saya salut ke pak Armien. Jujur, sebagai orang pendidikan saya merasa kurang detail memperhatikan anak saya dibanding Bapak. Salam kenal.

  12. Neny

    IYa bgmna cra memotivasi anak karena saya juga punya problem spt itu anak kurang fokus / konsentrasi belajar

  13. Evita

    Waduuh ternyata saya tidak sendiri, anak saya yang bontot no.2 susahnya minta ampun konsentrasi. Kalau sudah deket-deket UAS begini saya pasti kena serangan pusing dan deg-degan. Setiap tahun harus adu argumen dengan guru kelasnya, stress rasanya! Pernah saya ingin pindahkan anak saya ke Homeschooling tapi di Malang kota kami rasanya koq belum ada, dan papanya juga menolak. Saya melihat wajah anak saya koq ya kasian, nakal juga tidak malah cenderung pendiam dan menjauhi pergaulan. Apakah ada yang salah dengan anak saya? Kami orangtuanya yang sama-sama bekerja? Atau adakah saran untuk kami?? Trimakasih ya Pak Az, saya jadi bisa curhat. Salam untuk keluarga

  1. 1 Horee, ulangan Andria dapat 10 « Armein Z. R. Langi Weblog

    […] dari kantor barusan, Ulangan Bahasa Indonesia Andria dapat nilai 10. Baru saja Ina dan saya kemarin dipanggil bu guru. Super! Semoga berlanjut.. No Comments Leave a Commenttrackback addressThere was an error […]




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: