Kampanye: untuk apa?

Setiap lima tahun, kita akan “diganggu” berbagai kampanye: Pilpres, Pilkada Gubernur, Pilkada Walikota, Pemilu Legislatif (pusat, Provinsi, dan kota). Ini bisnis besar dan makan biaya besar. Kegunaan bagi sang calon jelas: agar dikenal dan bisa dipilih. Tapi kegunaan bagi masyarakat mungkin rendah.

Tujuan kita: mendapat pemimpin terbaik. Tapi mana bisa memperoleh pemimpin yang baik dalam waktu satu bulan kampanye. Pemimpin harus dikembangkan dari bawah. Makan waktu bertahun-tahun, kalau tidak berpuluh tahun.

Dan, daripada calon menghabiskan dana milyaran, lebih baik ia menghabiskan waktu mengembangkan diri dan belajar memikul tanggungjawab dari skala kecil menuju skala besar.

Masyarakat harus me-reward pemimpin seperti ini dengan mencoblos mereka. Jadi masyarakat harus memilih calon-calon yang terbukti bisa memimpin, melayani dan menyuarakan hati masyarakat. Jangan asal pilih.

If a clown can democratically be elected as our leader, the country is surely doomed


  1. Setuju pak, tapi solusi lain selain kampanye?

    Menurut saya, mungkin kampanye masih perlu. Tapi tidak ada lagi kampanye terbuka, apalagi di lapangan atau pake arak-arakan. Tidak ada lagi pasang poster yang menghabiskan uang dan mengotori kota. Cukup kampanye dan debat di Radio, TV dan Internet!

    KPU juga harus menentukan template Visi, Misi dan Program (VMP) supaya VMP masing-masing bagus dan comparable. Ya…., seperti dosen membimbing mahasiswa lah…… Ha-ha-ha….. Mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung. Saya kesal juga baca Visi-Misi semua calon yang ‘nun jauh di awan’.

    Baca kritik dan pemikiran-pemikiran saya tentang Pilgub Jabar di http://kupalima.wordpress.com/category/kritik-fakta-pemikiran/jawa-barat/

    Ya, dari pada hati jadi sesak karena kesal, saya tulis saja di blog. Siapa tahu dengan cara begini, jadi ikut berkontribusi memperbaiki para calon pimpinan itu.

  2. Pak Armein , apa mungkin masyarakat dibuat cukup cerdas untuk memilih pemimpin yang benar-benar layak? Ibaratnya masyarakat awam disuruh untuk membuat feasibility study terhadap calon-calon pemimpinnya. Manusia yang punya kemampuan membuat feasibility study paling kan cuma segelintir saja. Sisanya ya ikut-ikutan aja deh, kalau nggak ya sekalian golput.

  3. azrl

    Minimal mengerti, pak Waskita, siapapun yang mereka pilih, mereka yang akan paling merasakan akibatnya.

  4. “Dan, daripada calon menghabiskan dana milyaran, lebih baik ia menghabiskan waktu mengembangkan diri dan belajar memikul tanggungjawab dari skala kecil menuju skala besar.”

    —> Saya sependapat sekali dengan apa yang pak azrl tulis, daripada pemilu menghabiskan dana milyaran mengapa tidak digunakan untuk hal yang LEBIH BERGUNA (pemilu bukan hal yang tidak berguna,masih banyak hal yang lebih penting dan berguna dibandingkan dengan pemilu) misalkan :
    – perbaikan sarana dan prasarana pembangunan seperti : jalan-jalan yang di Bandung banyak berlubang.
    – pendidikan : perbaikan gedung sekolah serta fasilitas buku referensi,
    – pertanian : ya pertanian, daripada dana milyaran digunakan untuk “berfoya-foya” pemilu / kampanye, lebih baik digunakan untuk meningkatkan / memajukan pertanian sehingga indonesia dapat mencapain masa swasembada pangan kembali.
    – lapangan kerja : dana milyaran tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuka lapangan kerja baru yang lokasinya dipedesaan / daerah yang tidak begitu padat, sehingga sambil memperluas jumlah lapangan kerja juga memeratakan pembangunan.

    demikian sedikit opini dari saya, salam




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: