Menentukan Perasaan
Dari begitu banyak jenis kemampuan yang bisa kita miliki, ada satu kemampuan yang amat sangat saya ingin punya: kemampuan menentukan perasaan.
Seperti yang sudah kita semua maklumi: perasaaanlah yang menentukan keputusan kita. Perasaan yang menentukan perilaku kita. Kalau hati kita senang, keputusan kita menjadi cerdas dan inovatif. Kalau hati kita gembira, maka kita lebih tahan stress apapun. Sebaliknya kalau suasana hati kita kacau balau, maka keputusan kita menjadi buruk. Kalau hati kita marah dan kecewwa, maka gangguan sedikit saja akan melumpuhkan kita.
Coba bayangkan, berapa waktu yang terbuang percuma karena hati kita merana. Seharusnya kita sudah berproduksi, tapi kita tidak bisa konsentrasi. Karena suasana hati kita tidak menentu.
Yang saya ingin itu adalah saat kita memutuskan untuk senang, maka perasaan kita patuh. Ia merasa senang. Saat kita memerintahkan untuk bergembira, maka perasaan kita tunduk dan bergembira. Pada saat kita memilih untuk bersukacita, perasaan kita setujua dan bersukacita. Pada saat kita menentukan harus tenang dan damai, maka perasaan kita mereda menjadi tenang dan damai.
Kemampuan menentukan perasaan itu lah yang perlu kita punya.
Bagaimana caranya? Tentu dengan latihan. Latihan membuat keputusan. Latihan untuk mengenali gejala perasaan kita. Latihan untuk memiliki perspektif yang positif. Latihan untuk meyakinkan diri sendiri.
Perasaan negatif itu adalah sinyal yang mengatakan ada sesuatu ancaman. Ada bahaya. Dan banyak sekali bahaya itu hanya ada dalam pikiran kita. Kita perbesar berlipat-lipat dalam benak kita.
Ini yang harus dihentikan. Kita harus punya peredam dari sinyal negatif. Kita harus mengerti bahwa tubuh kita itu bisa salah mengerti. Bisa membesar-besarkan hal kecil. Bisa memicu mekanisme pertahanan kita secara tidak perlu.
Bayangkan ada orang yang terkena penyakit berat hanya karena harga dollar naik. Mengapa bisa begitu? Karena dia membayangkan harga dollar naik akan membuat kekayaannya menurun. Kekayaan nya menurun berarti dia jatuh miskin. Jatuh miskin berarti tidak makan. Tidak makan berarti dia mati. Dan ini mengerikan. Maka sakitlah dia.
Tidak logis bukan? Masak angka di tabel money changers bisa membuat orang mati? Tapi begitulah. Tanpa berpikir badan itu menyimpulkan bahaya itu. Karena ia mengijinkan perasaan negatif mendominasi benaknya.
Oleh sebab itu, tidak ada jalan lain. Kita semua harus belajar mengendalikan perasaan kita itu. Sehingga perasaan kita tidak ditentukan oleh faktor eksternal. Tapi oleh keputusan kita.
June 27, 2011 at 10:46 am
perasaan itu memang sulit ditebak..
July 31, 2011 at 10:36 am
Mungkin lebih pas dijudulkan “membentuk perasaan”.
Salam.
Angga Pramudita
August 21, 2011 at 12:40 am
Salam kenal, Pak…
Barusan membaca-baca lagi tulisan bapak yang dahsyat…
Mohon ijin mengutip/memasukkan atau apalah namanya beberapa potong kata-kata Bapak di FB saya, ya Pak…
Komentar untuk tulisan ini:
…kelebihan dari saya yang nyata & tidak dapat disangkal adalah kelebihan berat badan…hehehe….
August 21, 2011 at 12:42 am
eh, salah tempat…komentar ini/di atas untuk tulisan tentang kelebihan & kekurangan…maklum, Pak, gaptek karena bukan bidangnya…hehehe…