Keberagaman Kebenaran
Dunia ini begitu kompleks sehingga kebenaran tidak dapat dimonopoli. Kita perlu memiliki kemampuan untuk menghargai keberagaman kebenaran.
Contoh sederhana: apakah (1) bumi diam dan matahari berputar mengelilingi bumi, (2) bumi berputar mengelilingi matahari, atau (3) bumi berjalan lurus, demikian juga matahari? Mana yang “benar”?
Menurut saya ketiga-tiganya “benar”.
Mengapa saya berpendapat demikian?
Tentu saya harus mulai dengan definisi dulu, apa yang dimaksud dengan “benar”? “Benar” itu berarti (1) cocok dengan konsepsi mental saya tentang universe dan (2) bisa dikonfirmasi dengan pengamatan panca indera, langsung ataupun melalui alat.
Nah secara praktis pernyataan (1) itu benar. Kita bayangkan saja, sama dengan Aristoteles, para jenius, dan milyaran orang yang pernah hidup di bumi, bahwa bumi itu diam dan matahari yang berputar mengelilingi bumi. Bohong kalau kita tidak bisa membayangkannya. Waktu kecil kita mampu kok. Dan tiap hari kita bisa melihatnya dengan mata kita.
Waktu kita masuk sekolah, kita diajarkan pernyataan (2). Kita tidak berani protes, karena takut dianggap bodoh. Dan ternyata setelah berulang-ulang ditanamkan pada kita, maka mental kita bisa menerima model ini. Dan model ini tidak bertentangan dengan pengamatan kita, meskipun tidak otomatis.
Mengapa muncul model (2)? Alasannya sederhana: persamaan matematika tentang pergerakan benda langit di tata surya menjadi lebih sederhana. Dan konsisten dengan hukum gravitasi Newton.
Model (3) agak repot untuk diterima. Orang mempersoalkan apa sih yang dimaksud dengan pengamatan? Apa sih yang dimkasud dengan gravitasi? Terlebih kalau pengamatan itu bersifat sinyal visual atau gelombang elektromagnetik. Sinyal itu bisa dibelokkan oleh partikel gravitasi yang disebut graviton. Jadi orang menyimpulkan bahwa bumi dan matahari bergerak lurus. Tapi graviton menyebabkan sinyal pengukuran memberikan kesan adanya putaran melingkar. Kasarnya referensi pengamatanlah yang membuat kesan melingkar. Benda langit sih jalan lurus dalam ruang dan waktu.
Ini analogi dengan sebatang pensil yang terlihat patah saat dicelupkan dalam bejana air. Mata kita yang menyimpulkan patah. Pensil itu sih lurus-lurus saja.
OK contoh ini panjang ya. Tapi point saya, kita tidak bisa memonopoli kebenaran. Kita perlu memiliki kemampuan untuk menangkap keberagaman kebenaran.
Dan masing-masing versi punya justifikasi dan manfaat.
June 20, 2011 at 5:06 pm
Saya tambahkan yg ke empat pak.
(4) bumi dan matahari sama-sama berputar.