Kaya
Kaya itu soal kesepadanan antara kepemilikan dengan kontribusi. Konsumsi dengan produksi.
Kekayaan itu seperti baju, pakaian yang kita kenakan. Harus cocok, sepadan dengan diri kita. Di situ ada keadaan yang stabil. Di mana ada keseimbangan, kesepadanan antara berapa besar yang kita hasilkan dan berapa besar yang kita ambil.
Kalau prinsip ini di langgar, maka kita tidak memiliki kekayaan yang sejati, yang sustainable. Seperti memakai baju yang tidak cocok.
Kalau kita bermimpi ingin memiliki Mercedes Benz terbaru, maka kita itu harus layak dulu. Pantas dulu. Deserving dulu.
Dalam hal apa?
Dalam hal kontribusi. Hasil. Karya. Produksi.
Kalau karya kita itu istimewa sekelas Mercedes Benz itu, maka sangat layak kita memiliki Mercedes Benz. Kalau apa yang kita persembahkan pada orang lain itu berkualitas setinggi Mercedes Benz, maka sungguh layak kita punya satu di garasi.
Sustainable.
Kalau kita memaksakan diri, tidak mau mengikuti hukum sepadan itu, maka jadinya kacau. Kita menipu sana sini. Korupsi sana sini. Mencuri sana sini. Rampok sana sini.
Dan hasilnya very ugly. Tidak cocok. Tidak pantas. Tidak layak. Tidak afdol. Perut gendut, pakai bikini. Atau sebaliknya, badan cuma tulang, baju triple-XL.
Jadi, cita-cita menjadi kaya itu baik. Cuma harus dimulai dengan mem-pantas-kan diri untuk menerima kekayaan itu. Bahwa kekayaan kita itu harus sepadan dengan karya kehidupan kita.
April 22, 2011 at 8:59 pm
Sangat mengena pak, terima kasih atas renungannya…
April 25, 2011 at 1:23 pm
Bagus Pak Armein, konsep kesepadanannya.
April 26, 2011 at 3:17 pm
Sustainable…ini benar pak….
Jika gaji kecil, namun cukup dan kontinyu…ini buat saya lebih nyaman. Tinggal melakukan efisiensi atau menambah peluang secara halal.