Pemimpin Yang Berani
Bukan kedudukan yang memberikan keberanian, tapi keberanian yang memberikan kedudukan (Maxwell).
“Kalau saya menjabat, saya akan melakukan ini dan itu…”, demikian janji orang. Dia baru berani kalau dia punya jabatan. Punya kedudukan.
Sebenarnya tidak begitu.
Kalau kita berani, barulah kita bisa dianugerahi kedudukan. Kalau kita tegas, maka kita dipromosikan mendapat jabatan.
Tidak ada yang lebih konyol dan mengerikan saat seorang penakut mendapatkan kekuasaan, kemudian dengan gagah berani menggunakan kekuasaan itu dengan berlindung di balik status jabatannya.
Dia membuat keputusan sambil bersembunyi di belakang layar, dan tidak berani mempertanggungjawabkannya di depan publik.
Ugly.
Bagaimana menjadi berani? Yang harus dikalahkan adalah diri sendiri. Kemudian keberanian itu baik untuk memperjuangkan kebaikan bersama, bukan kepentingan diri sendiri. Keberanian untuk meluruskan apa yang salah.
Jadi jangan tunggu punya jabatan baru baru berani bertindak. Terbalik. Beranilah bertindak, barulah layak dikaruniai jabatan.
February 28, 2011 at 5:01 pm
nice blog
March 2, 2011 at 12:37 pm
Agree… Keberanian dan kepemimpinan emang ga bisa pisah ya Pak.
March 17, 2011 at 3:26 pm
artikel yang hebat.. sosok pemimpin yang tepat berani dalam segala hal dan berani mempertanggungjawabkannya.. semoga sukses