Bencana di mana-mana?
Sekarang banyak orang stress. Karena menyadari bahwa hidup ini penuh bencana. Penuh masalah. Padahal tidak begitu.
Memang bencana itu datang bertubi-tubi. Seakan tidak pernah berhenti.
Padahal faktanya bencana itu datangnya sekali-sekali. Yang konstan itu justru kondisi tanpa bencana.
Buktinya saya masih nulis blog, dan anda masih baca.
Kejadian yang mengerikan buat saya itu, saat saya ada di lantai 4 gedung PAU kemudian terjadi gempa. Dan saya akui, benar-benar mengerikan. Melihat tembok besar bergoyang dan berderik. Saya sempat pucat pasi hampir tiga puluh menit. Tapi itu cuma tigapuluh menit, dari usia saya yang sudah puluhan tahun.
Saya pernah terbaring lima hari di rumah sakit dalam kondisi yang sangat down. Merasa hopeless. Saya pikir my life was over. Tapi itu cuma lima hari dari puluhan tahun hidup saya.
Saya bisa nambah daftar ini. Tapi I think you’ve got my point: hidup ini penuh kenikmatan dari Tuhan. Bencana dan masalah itu cuma interupsi-interupsi sementara. Yang permanen itu adalah pemeliharaan Tuhan.
Jadi, kalau tahu begini, kita tidak boleh stress. Sikap dasar kita, default, adalah setiap hari mengharapkan nice surprises. Setiap hari adalah pesta kehidupan. Tiap hari adalah waktu untuk menarikan tarian sukacita kehidupan.
Ya, sekali-sekali akan datang interupsi yang kita namakan bencana atau masalah. Tapi itu cuma interupsi. Hal utamanya, main course nya, yakni berkat kesukacitaan hidup tetap berjalan.
Kita jangan mengadopsi pandangan bahwa hidup ini penuh beban masalah, di mana sekali-sekali datang interupsi kegembiraan.
Terbalik.
Hidup ini penuh berkat kegembiraan, di mana sekali-sekali ada interupsi masalah.
Faktanya memang begitu….
November 19, 2010 at 1:27 pm
Kalau gak salah ingat, Pak Tifatul bilang kalau bencana dimana-mana itu akibat turunnya moral di daerah bencana itu …
November 19, 2010 at 10:27 pm
wah, betul juga yah pak !!
mungkin juga “interupsi” ada supaya kita lebih mensyukuri kenikmatan yang kita rasakan !!
November 25, 2010 at 11:54 am
pak saya mahasiswi sekarang sedang melakukan penelitian untuk skripsi, saya tertarik dengan tulisan bapak yang ditulis tgl 20 mei 2008 yaitu learning by doing and teaching. apakah bapak punya referensi tentang learning by doing and teaching yang bpk tulis. terimakasih.
November 25, 2010 at 12:04 pm
Maaf baru balas, rasanya pernah tanya yang sama ya? Buku itu: The Knowing-Doing Gap: How Smart Companies Turn Knowledge into Action, karangan Pfeffer dan Sutton. (http://www.amazon.com/Knowing-Doing-Gap-Companies-Knowledge-Action/dp/1578511240)
November 27, 2010 at 11:58 am
iya pak,,.,.,.maaf ya pak merepotkan. kalo saya butuh apa2 tentang skripsi saya yang berhubungan dengan learning by doing and teaching. boleh bertanya kepada bpk ya? terimakasih ya pak.
November 28, 2010 at 2:20 am
Hahahahaha… saya masih ingat wajah bapak saat gempa itu.