Anger and Fear
Dua perasaan yang harus anda lawan adalah marah dan takut. Kedua perasaan ini mengharu-birukan hati dan pikiran.
Sampai orang mengatakan, kalau ada yang harus anda takuti, takutilah rasa takut itu sendiri. Kalau ada yang harus anda marah, marahlah pada amarah itu sendiri.
Marah itu muncul bila kita menginginkan sesuatu seharusnya terjadi, tapi ternyata tidak terjadi. Dan seringkali sesuatu itu berbentuk keinginan yang harus terjadi di luar kita, yang kita tangkap melalui panca indera. Sesuatu itu menjadi buah pikiran kita, angan-angan kita, dan kita menantinya untuk terjadi. Saat tidak terjadi, marahlah kita.
Saat kita marah, maka pikiran kita dibanjiri oleh hormon dan zat kimia yang mengacak-acak ketenangan kita. Meng-agitasi pikiran kita. Sel-sel otak kita seperti sekumpulan massa di lapangan yang sedang dihasut provokator. Menggelegak. Intensitas tinggi. Dan bergerak ingin menyakiti, merusak dan menghancurkan lawan. Murka.
Rasa takut, sebaliknya, muncuk bila kita mengkuatirkan akan datangnya bahaya. Terutama mengantisipasi bahwa kecelakaan dan kemalangan akan muncul. Kita bisa mati. Kita bisa celaka. Kita bisa rugi.
Inipun buah pikiran. Saat kita memikirkan berbagai bentuk kemalangan dan betapa ini sedang menuju pada kita, maka badan kita jadi waspada. Zat kimia dan hormon membajiri otak kita. Sel-sel otak kita pun bereaksi sensitif, siap melawan atau lari (fight or flee). Sngat teragitasi.
Keduanya, marah dan takut, mengambil alih kemampuan kita berpikir jernih. Ia membawa kita pada mode darurat. Emergency. Ia menutup berbagai memori kita. Ia mem-bypass hikmat pengambilan keputusan. Membuat kita tidak lagi berpikrian sehat.
Dan yang terburuk, ia merengut sukacita dan kegembiraan hati. Ia mengambil excitement. Ia meniadakan daya hidup.
Dan hidup yang paling sengsara itu adalah bila kita tersu membawa kemarahan atas masa lalu dan merasa takut akan hari depan.
Kita harus melatih diri untuk melawannya. Kemarahan atas masa lalu harus diatasi dengan pengampunan dan bersyukur atas semua yang telah terjadi. Rasa takut akan masa depan harus diatasi dengan keyakinan bahwa Tuhan jauh lebih berkuasa atas kemalangan itu sehingga kita punya antisipasi positif. Excited dengan apa yang akan terjadi.
Ini memang tidak mudah. Tidak bisa sekejap. Untuk itu kita perlu melatih diri setiap hari. Lewat pengetahuan. Lewat doa. Lewat ibadat. Lewat meditasi. Lewat inspirasi. Lewat trigger positif.
Sehingga kita tidak lagi mudah marah atau takut. Melainkan mudah berysukur, mudah mengampuni, mudah excited, dan mudah gembira.
April 12, 2010 at 7:29 am
bagaimana kalau kita tdk melawan amarah… tapi menyimpannya dengan tidak membiarkan amarah itu menjadi lbh besar, sampai rasa itu terdekomposisi dan hilang dengan sendirinya…
April 19, 2010 at 1:08 pm
Keyakinan bahwa Tuhan jauh lebih berkuasa atas kemalangan dan excited dengan apa yang akan terjadi, point yang bagus pak Armein. Trims.
April 21, 2010 at 8:58 am
Harus selalu optimis menatap masa depan.. Dengan dibarrengi keyakinan terhadap adanya Tuhan, pasti kita bisa merintangi semua masalah yang ada..
Sesungguhnya Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuannya..
April 30, 2010 at 2:48 pm
Pencerahan-pencerahannya, layak dibukukan nih Pak …
May 12, 2010 at 6:00 am
rasa marah dan takut itu memang manusiawi. Tapi betul kata bapak, kurang berguna juga bagi kehidupan. Jadi sebagai gantinya bereaksi dengan marah/takut terhadap suatu hal, lebih baik mencari solusi yang lebih baik.
Tapi ada satu rasa takut yang memang diperlukan pak. Misalnya takut mencuri, takut melanggar peraturan, dll
September 30, 2010 at 4:02 pm
Syukur atas apa yang sedang dijalani dan telah terjadi, serta yakin pada masa depan yang akan dihadapi,..
Satu kesimpulan indah /..
Trim’s untuk senantiasa berbagi,,