Hujan
Dulu saya suka sebal kalau turun hujan. Mengganggu rencana. Sekarang saya enjoy saja. Basah juga tidak apa-apa.
Bayangkan anda punya rencana bepergian. Atau kegiatan outdoor. Atau menjemur pakaian. Semua ini bisa terganggu oleh datangnya hujan.
Suatu hari kami mengalami kekeringan. Air tidak ada. Sumur kosong. Kami terpaksa beli air. Dan gunakan sehemat mungkin.
Saya juga pernah ke pulau Sumba. Betapa kering daerah yang saya kunjungi itu. Tanaman sukar tumbuh. Dan orang sangat merindukan turunnya hujan.
Sejak saat itu saya belajar bersyukur saat hujan turun. Saat saya kecipratan basah. Karena saya tahu sumur-sumur jadi terisi. Kita tidak akan kekurangan air. Petani akan panen. Tanah-tanah akan basah.
Memang kita bisa sangat pusing kalau banjir. Genangan air masuk rumah. Atau membuat jalanan macet.
Tapi itu semua bukan salah hujan. Bukan salah air. Itu semua salah kita. Tidak membangun saluran air yang baik. Tidak membangun aliran air yang lancar. Tidak membangun sistem penyerapan yang bagus.
Jadi kalau hujan datang, mendung di langit, jangan cemberut. Kita bersyukur. Karena bumi disegarkan kembali. Dipuaskan dahaganya.
December 28, 2009 at 8:12 pm
Saya suka hujan…menimbulkan bau tanah yang segaaar..
Melihat hujan turun dari balik jendela…rasanya damai…
Menikmati kopi sambil menunggu hujan…asyik..
Kalau berhujan-hujan an, udah nggak kuat lagi, soalnya usia udah tak memungkinkan hujan2an..jadi kalau habis kehujanan, segera mandi, minum hangat biar nggak masuk angin.
December 30, 2009 at 3:10 am
Hujan air adalah sahabat baik pada musim salju apabila jalanan lagi penuh salju dan es. Karena, semuanya mencair, bersih…lalulintas pun lancar.