Bangsa Pelaut
Insinyur sipil biasanya bangga dengan karya jembatan sekelas Suramadu. Itu jembatan raksasa penghubung pulau Jawa dan pulau Madura. Tapi Ir. Sujiwo Tejo, budayawan lulusan ITB ini malah mengusulkan jembatan itu dibongkar sekarang. Karena ini tidak sesuai dengan semangat maritim bangsa Indonesia.
Saya tersentak membaca pendabat beliau. Suramadu ini belum lama diresmikan. Kok sudah perlu dibongkar?
Tetapi saya mengerti pemikirannya, dan melihat kebenaran pendapat ini.
Ia melihat bahwa selama ini bangsa kita sudah keliru. Melihat lautan sebagai penghalang. Padahal lautanlah yang merekat bangsa Indonesia.
Berkali-kali kita bilang bahwa masa depan bangsa kita ada di lautan. Seperti nenek moyang kita, bangsa pelaut.
Tapi entah mengapa, pikiran kita pikiran kontinental. Pikiran kita sama dengan bangsa Eropa, Amerika, Cina, India dan lain-lain. Melihat laut sebagai bagian luar dari kehidupan.
Wajar sekali kalau mereka berpikir begitu. Negara mereka adalah daratan.
Tapi coba tengok negara Indonesia. Kita archipelago. Kita kepulauan. Laut adalah bagian terbesar dari teritori Indonesia. Jadi keliru besar melihat laut sebagai sumber masalah. Keliru kalau insting kita adalah menbuat jembatan di laut.
Seharusnya kita menguasai transportasi laut, bukan memaksakan transportasi darat di laut. Dan lebih luas dari itu. Kita harus menguasai semua aspek laut sebagai kosmos kita, sebagai lingkungan hidup kita, sebagai tempat kita berjarya dan mendapatkan rejeki kehidupan.
Dalam semangat itu, pendapat Ir Sujiwo Tejo sangat mengena. mungkin terlambat, Jembatan Suramadu sudah berdiri. Tentu tidak bijaksana untuk membongkarnya.
Tapi untuk kedepan, untuk rencana-rencana berikutnya, kita harus benar-benar melakukan soul searching. Masihkah bangsa kita bangsa pelaut? Masihkah negara kita negara maritim?
Kalau jawabannya ya, maka transportasi laut harus digalakkan. Kehidupan maritim harus didorong. Dan bangsa Indonesia harus dididik sejak kecil untuk memiliki wawasan maritim.
August 30, 2009 at 6:24 am
wooww…
August 31, 2009 at 10:31 am
Asal nemu caranya gimana masukin kabel fiber se-Indonesia menyebrang laut dengan harga yang sama seperti membentang kabel di daratan, saya sih oke-oke aja
Kalau wireless agak repot pak, musti pakai satelit dgn modulasi yang canggih utk kasih bandwidth, tapi nggak bisa kasih latency spt fiber optik. Kalau mau pakai wireless terestrial nyebrang laut, ada redaman dan gelombang pantul.
August 31, 2009 at 7:56 pm
JALESVEVA JAYAMAHE…!
August 31, 2009 at 11:29 pm
wow,,, the next ministry of education…
January 13, 2010 at 11:47 am
wew…ada benang merah dengan tulisan pak pekik.
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia kesulitan menemukan tempat benchmark.
Justru dgn status unik seperti negara kepulauan terbesar, seharusnya bangsa kita bisa menjadi leader di teknologi terkait.
March 17, 2010 at 7:39 pm
Untuk Sipil :
Bangsa kita masih Pelaut
Bangsa kita masih raja dilaut
Rakyat kita masih cinta laut
Untuk Navy :
No Comment