Masa Depan Dosen Muda ITB Suram?
Di tengah-tengah kabar gembira meningkatnya dana pendidikan Indonesia, saya melihat bahwa masa depan kesejahteraan dosen muda di ITB bakal suram. Diperlukan tindakan drastis, mengubah ITB menjadi Innovation University, untuk membalikkan kecenderungan ini.
Praktis saya sudah menjadi dosen di ITB sejak tahun 1987. Jadi sudah lebih dari 21 tahun. Jadi saya mendapat kesempatan yang cukup lama untuk mengalami sendiri kehidupan seorang dosen.
Tuntutan kesejahteraan seorang dosen sebenarnya sederhana. Ia perlu bisa memberikan nafkah yang layak bagi keluarganya, sehingga cukup sandang, pangan, dan papan, serta anak-anaknya bisa memperoleh pendidikan.
Kesejahteraan dosen senior pada umumnya sudah lebih dari layak. ITB membantunya membelikan rumah, seperti di Sangkuriang, Kanayakan, dan sebagainya. Kemudian gaji dan insentifnya memungkinkan ia memenuhi kebutuhan sandang dan pangan.
Dosen seperti saya tidak bisa dikatakan dosen muda. Generasi saya masih mengalami sisa-sisa kebijakan Rektor Prof Iskandar Alisyahbana, di mana dosen melakukan kegiatan entrepreneurships.
Gaji memang kecil. Tapi ITB memfasilitasi dosennya untuk berjuang mencari dana program dari berbagai sumber. Kemudian ITB membebaskan dosen untuk mengelolanya sehingga penghematan bisa dilakukan. Dari penghematan ini dosen bisa mendapatkan insentif yang mencukupkan kebutuhannya.
Bukan saja kebutuhan sandang pangan bisa dipenuhi. Dalam dua tiga tahun, saya bisa memperoleh kendaraan roda empat. Dalam sepuluh tahun saya bisa memiliki rumah di Gunung Batu.
Dan itu semua bisa saya lakukan tanpa meninggalkan tugas akademik saya. Saya jarang bolos kuliah. Saya membimbing banyak mahasiswa. Saya mempublish lebih dari 100 paper ilmiah. Dan saya sempat memperoleh beberapa penghargaan akademis.
Jadi kesejahteraan generasi saya pada umumnya OK. Tidak demikian dengan generasi berikutnya. Karena konsep Prof Iskandar Alisyahbana dipandang kuno bahkan ilegal. Kita mengadopsi konsep baru dengan nama konsep “accountable”.
Saya membayangkan masalah yang dihadapi mereka. Untuk bisa menghidupi keluarganya dengan sandang, pangan, dan papan yang layak, berapa uang yang diperlukan?
Coba lihat harga sandang pangan papan hari ini? Kehidupan sehari-hari keluarga dosen muda menuntut biaya hidup mencapai lebih dari Rp 7 juta/bulan. Rumah di kawasan Gunung Batu sudah memasuki angka Rp 1 milyar. Mobil Kijang Innova sudah tiba di Rp 175 juta. Padahal gaji mereka paling-paling Rp 5-6 juta/bln.
Dosen muda masih bisa mencari sumber dana tambahan. Itu iming-imingnya. Tapi realitasnya bagaimana? Dalam konsep “accountable” versi ITB, ia dipatok hanya bisa mendapat honor Rp 40 ribu/jam. Ini berarti kalau ia berhasil mendapat pekerjaan dari luar dengan bekerja penuh 40 jam per minggu, maka dana honor yang dia bisa klaim adalah 40x4xRp 40.000 = Rp. 6.4 juta perbulan!
Belum cerita horor ITB menerapkan konsep DPI, yang memangkas honor sebesar 60% dan terkena Pajak Tahunan 25%. Jadi praktis ia hanya menerima Rp. 1.92 juta per bulan untuk bekerja 40 jam per minggu! Dijumlah dengan Rp 6 juta gajina, ia cuma bisa mencapai Rp 8 juta per bulan.
Jadi dosen muda ITB tidak akan mampu mensejahterakan keluarganya.
Ini ancaman untuk masa depan ITB juga. Akan tiba waktunya universitas lain yang dikelola lebih wajar bisa menawarkan kompensasi yang lebih layak. Maka dosen muda terpaksa harus hengkang dan pindah. Padahal mereka adalah andalan ITB mencapai world class university.
Jadi bukan saja masa depan dosen muda itu suram. Tanpa tindakan drastis, masa depan kampus kita akan ikut suram.
Tentu tidak boleh kita hanya mengeluh tanpa menawarkan solusi. Menurut saya harus dikembangkan konsep innovation university. Apa itu? Tunggu postingnya…
January 15, 2009 at 8:04 pm
ditunggu kelanjutan postingnya… penasaran..
January 15, 2009 at 9:44 pm
wah… gawat nih.. saya harus menata masa depan saya lagi
January 15, 2009 at 10:37 pm
Saya kok baru denger kalau konsep DPI memangkas honor sebesar 60%. Mungkin saya nggak pernah punya proyek (yg melalui ITB maksudnya).
Yg sering saya denger adalah cerita horor lainnya yaitu konsep “irreversible kanebo” … Tahu kan kanebo yg sangat efektif menyerap air itu? cuma yg ini kalau sudah terserap suka susah keluar lagi … hihihi.
January 17, 2009 at 3:00 pm
wah wah gimana ni..
rencana temen temen mw jadi dosen jd mikir lg ya mw jadi dosen hee
January 24, 2009 at 11:19 pm
Waktu S-2 di ITB saya dapet voucher dari ITB, dengan proposal bahwa akan dipekerjakan sebagai tenaga pengajar / tenaga riset di ITB.
Kenyataannya ?
NOL BESAR ! Peluang itu tertutup, karena ternyata ITB lebih suka menerima PhD / Dr. Gagal jadi dosen ITB.
Sedikit banyak merasa terjebak. Tapi tidak apa-apa. Lumayan ada gelar S2. Ga keluar duit buat SPP pula.
Tapi benar yang pak Armein katakan : dengan standar harga yang gila-gilaan seperti sekarang ini, mau tidak mau dosen muda ITB harus berjuang di luar jam ngajar untuk memenuhi kebutuhan perutnya (baru kebutuhan perut nih, belum rumah dll…. gaji 1 jutaan, bisa beli apaaaa ??? )
Bahkan menurut saya, jadi dosen di manapun saat ini nasibnya bakalan sama seperti jadi guru : kesejahteraan sangat tidak bisa dijamin hanya dengan ngajar saja. Harus proyekan ! Dan jelas, konsentrasi ngajar akan jauh berkurang. Waktu dihabiskan untuk bikin proposal proyek, mengerjakan proyek, finishing proyek, documenting, daripada eksplorasi ilmu.
Dengan kenyataan seperti itu, saya sudah bisa melihat kok masa depan ITB akan seperti apa….
March 27, 2012 at 5:24 pm
Mas, jadi dosen di Univ. swasta yang besar, cukup menjanjikan; lihat tulisan dibawah.
February 3, 2009 at 5:19 pm
nunggu pak armein jadi rektor nih
February 16, 2009 at 12:08 pm
apalagi sebentar lagi ITB bakalan jadi BHP. entah sperti apa ntar nasib-nasib dosen ITB, apakah dosen saya jadi lebih jarang masuk karena mroyek diluar?
February 16, 2009 at 3:09 pm
kacian juga tuh dosen ITB..udah palanya botak duitnya cekak pula…….perlu ada gebrakan nih agar tidak terjadi exodus besar2an ke universitas swasta yg mapan.
February 16, 2009 at 8:13 pm
setelah saya pikir2.. tidak ada manusia yang bisa menentukan masa depan.. tapi kita bisa mengubah masa depan dengan menjalani masa sekarang dengan sebaik-baiknya..
so, daripada mengeluhkan hal yang belum pasti.. lebih baik bahu-membahu melewati masa-masa sulit.. mungkin dengan cara ini bisa mengubah persepsi umum bahwa dosen-dosen itb sulit bekerja sama antar sesama dosen
February 17, 2009 at 2:33 pm
Ditunggu lanjutan postingan ini pak, di sini maupun di milis IA ITB
February 17, 2009 at 4:08 pm
Itulah yang sedang terjadi di ITB, accountable yang menurut saya agak keblinger, atau kalau saya sampaikan komplen saya pada para petinggi dan pejabat di ITB, katanya ITB sedang BELAJAR. Tapi sampai kapan mau belajar?? itu yang jadi pertanyaan BESAR.. ketika pendapatan dosennya di keteng, 50ribu, 100ribu, dengan dengan segudang tanggung jawab kepada mahasiswa yang membayar puluhan juta ketika mereka tergoda menjadi mahasiwa Universitas ternama di Indonesia.. Sampai saat ini kami sebagai ujung tombak perkuliahan dan penelitian ITB tetap harus mengais tambahan dari luar ITB, tapi yang lagi jadi pertanyaan apakah memang harus begini??.. Mungkin juga “IYA” adalah jawabannya.. tapi yang terus lagi jadi pertanyaan ke adat kebiasaan mana ITB hendak berkaca menentukan arah pensejahteraan para peng-ujungtombak-nya.. tetapkah mereka dibiarkan berkelana berbekal CAP GAJAH untuk mencari hajat hidup layak sebagai penyandang Prof.Dr,PhD.. atau mau memberikan kesejehteraan seutuhnya dari kampus ITB bagi mereka sang penggerak kedigdayaan ITB, tanpa para dosen ITB bukan apa2, apa lagi cap gajah yang hanya duduk saja membawa perlengkapan belajarnya.. Sekali lagi mudah2an para penentu arah ITB bisa melihat kebawah dimana para pengemban amanah bekerja keraaassss.. tidak mengenal lelah terkadang tidak hidup manusiawi.. dan seringkali kesehatan juga menjadi taruhannya.. agar bisa membuat kebijakan yang semakin baik pada para pengemban amanah.. Demikian wassalam.. mudah2an berguna bagi yang membaca komentar ini..
February 17, 2009 at 5:28 pm
bapa..
emangnya ada gitu dosen dengan gaji yang baik? pls lemme know..
February 17, 2009 at 5:51 pm
Inna lilaahi wa inna ilayhi rooji’uuun…
Saya senasib dengan mas nugie, dan saya bersyukur sudah mengubur dalam-dalam mimpi untuk menjadi dosen ITB.
February 17, 2009 at 5:57 pm
bener Pak. Dosen Pembimbning saya sering mengeluh demikian. Honor yang dipotong sangat besar. Dana Penelitian yg ditahan LPPM, dll. Sehingga beliau sendiri ragu bisa menyekolahkan anaknya ke ITB juga
February 17, 2009 at 8:50 pm
Menarik pak bahasannya, perlu ada yang memulai dan kasian kalau dari dosen muda maka tentu ga di denger, dianggap egois dan manja
February 17, 2009 at 10:01 pm
Armein,
Sudah lama tidak kontak. Begitu ketemu di blog ini, eh rambut sudah tipis rupanya. Saya yakin, itu bukan karena 8 juta perbulan, tapi 80 juta perbulan. Jadi susah ngaturnya, rambut yang kena dampaknya. He…he….
Ngomong-ngomong, kalau 8 juta perbulan dan hidup di Bandung, rasanya masih bisa kipas-kipas. Itu berdasarkan pantauan saya dari jauuuuh. Masih banyak PT di JKT yang bayar dibawah 5 juta perbulan untuk dosennya. Hemat saya itu yang puyeng. Umumnya, saya memang prihatin kehidupan kita semua ditanah air. Untuk ITB, keprihatinan malah menggunung. Mari kita dorong agar ITB maju atuh.
February 17, 2009 at 11:24 pm
Pak dosen yang terhormat..
Hanya ini yang terlintas di benak saya:
Pantesan pendidikan di Indonesia ga maju-maju..
ternyata dosen nya pada matre..cari proyek terus..seharusnya konsen terhadap tugas utamanya..research…bantu negara untuk ningkatkan technological progress-nya…8 juta masih kurang?..cukupnya berapa?..manusia tidak akan pernah merasa cukup pak……!!!!
February 18, 2009 at 7:02 am
Halo Pak Armein,
Salah satu dosen yang paling saya nikmati kuliahnya, walaupun susah banget ngerti DSP. Semoga orang-orang seperti Pak Armein ini bisa memperbaiki manajemen ITB. Tak banyak institusi memiliki resource spt ITB di Indonesia ini.
February 18, 2009 at 8:30 am
@ayi: ada. Gaji dosen di SBM sudah belasan juta per bulan. Gaji dosen UI juga cukup tinggi.
@Mundzir: Apakabar, nih, senang kontak lagi. Betul saya dapat 80jt per bulan. Tapi uang kantor untuk mendanai program riset yang tidak turun-turn, jadi botak hehehe
Anyway, 8 jt itu maksimal setelah kerja ekstra di luar tugas pokok selama 40 jam per minggu. Dalam prakteknya, banyak dosen terima jauh lebih kecil: Rp 2 jt ++. Saya mengukur 8jt kurang itu bukan nanya dosen (malu atuh), tapi nanya eks mahasiswa2 saya yang sudah lulus, menikah, punya anak TK, dan mencoba hidup di Bandung.
Dear Indi: Bukan buat saya, euy. Seperti di posting nya, saya tidak mikirin nasib saya, karena I am OK already. Semua layanan pendidikan yang saya berikan pada mahasiswa selama ini nyaris gratis. Gaji dosen (PNS+insentif ngajar) saya sebulan semester lalu sekitar Rp 2.7 – 3 juta per bulan, dengan anak empat usia sekolah dan satu sudah kuliah. Dan semester lalu itu saya diopname di Borromeus, habis jutaan. Gara-gara sakit, saya berhenti ngajar, dan insentif dipotong. Try it if u can
Saya lebih melihat realitas dosen muda, yang baru punya keluarga, punya bayi, dsb. Saat mereka kebingungan tidak bisa bayar rumah sakit, uang susu, uang pangkal, atau cicilan rumah, mereka tidak perlu retorik.
Anyway, Kalau kita amati sejarah pendidikan di seluruh dunia, justru sikap retorik yang memaksa guru dan pendidik untuk dibayar murahan dan hidup miskin itu yang membuat kualitas pendidikan itu murahan. Kita bisa coba search di google ranking world class university dan world class education, kemudian korelasikan dengan tingkat gaji pendidiknya. Let me know the result…
February 18, 2009 at 9:01 am
Let’s me write a positif comment….
“Jadi dosen muda ITB tidak akan mampu mensejahterakan keluargany”
Telah lahir solusi bagaimana meningkatkan Income khusus bagi Dosen dan siapa saja yang mau, tanpa mengganggu waktu yang harus diabdikan kepada tugas mulia yaitu: Dosen, sehingga Mahasiswa tidak terlantar dan kwalitasnya jadi turun.
Tetapi kwalitas Mahasiswa tidak selalu ditentukan oleh Dosen-nya, harus ada dari Mahasiswanya sendiri selama belajar/menjadi Mahasiswa.
Mulailah berpikir Maju, karena ini bukan berita baru…..
Rata2 Mahasiswa menghabiskan total uang Rp.150- 300jt selama menjalani 4-7 tahun masa kuliahnya. Tapi rata2 hanya di gaji 1-5juta/bln setelah bekerja sebagai profesional. Jadi butuh waktu lebih dari 12 tahun hanya untuk mengembalikan modal kuliah, itupun kalau setiap bulan dari sejak awal bekerja bisa menabung minimal 1jt/bulan.
Nah apakah fakta itu adalah Anda? …………
Penelitian Gallup International menunjukkan rata2 eksekutif di Asia hanya mampu bertahan 90 hari dgn gaya hidup yang ada apabila besok berhenti bekerja. Setelah itu mereka harus mulai menjual asset/berhutang.
MASIH MAU TUTUP MATA & PIKIRAN UNTUK MEMILIH SEUMUR HIDUP JADI ORANG GAJIAN DAN DIBAYAR MURAH DEMI KEAMANAN KERJA YANG SEBENARNYA TIDAK ADA LAGI ?
atau …………………
ANDA MENCARI SOLUSI KEAMANAN SEBENARNYA YANG LEBIH PASTI BISA MENJAMIN MASA DEPAN ANDA? KENAPA ORANG KAYA SEMAKIN KAYA, KELAS MENENGAH BERGUMUL TERUS DAN YANG MISKIN BABLAS AMBLAS MISKIN??????
Let’s talk about it !!!!
Kalau Anda bisa keluar dari cara berpikir Anda saat ini dan berpeluang sama untuk menjadi pengusaha kaya, kenapa harus buang waktu untuk dibayar murah? Hadiri diskusi bisnis enterpreneur yang diadakan pada:
Hari : Setiap Jum’at (Malam)
Waktu : 19:00 WIB
Tempat : Gd. PUSDIKLAT GEOLOGY (ITB Bandung)
Jl. Cisitu Lama no. 37
Hanya bagi yang serius bisa kirim email ke: tu2yanto@gmail.com or Call: 0813 950 44459
Salam Sukses..!!
Mas Yan
February 18, 2009 at 9:22 am
waktu masih aktif jadi dosen di sebuah PTN di kalimantan, tahun 2005, pangkat saya 3c, kualifikasi doktor, masa kerja sepuluh tahun. gaji saya waktu itu sekitar 1,7 juta rupiah. kalau saya dapat 6 juta atau 8 juta per bulan seperti dosen-dosen ITB, saya akan bertahan, tidak keluar. karena gaji 1,7 juta itu ndak masuk akal, akhirnya saya putuskan untuk ngacir. sekarang saya kerja di swasta.
hasan
February 18, 2009 at 11:14 am
Menarik sekali ya…..
February 18, 2009 at 10:19 pm
Benar kata pak Armein. Take home pay rata2 jauuh dr angka 8.
Pernah sy tugas proyek di bontang. Waktu itu mengajak bbrp mantan mahasiswa sy. Mrk kaget (dan lalu tertawa) ketika tahu gaji pokok saya setara tukang potong rumput di perusahaan itu, bahkan kalah dr gaji sopir.
Sy lihat kebanyakan kolega dosen mmg memilih menjadi dosen (dg resiko minim pendapatan, tp sekaligus berpotensi jadi menteri. Hehe) Tak jarang sebelumnya mrk pernah diterima di perusahaan besar. Tapi itu generasi lalu. Tidak tahu apkh skrg mjd dosen msh menarik, terutama krn aturan yg makin membatasi..
February 19, 2009 at 1:22 am
Dosen tugas wajibnya adalah Tridharma Perguruan Tinggi:
Dharma I : Pendidikan dan Pengajaran (Education)
Dharma II : Penelitian (Research)
Dharma III: Pengabdian Masyarakat (bahasa Inggrisnya kaga tahu, euy. Masa sih Community Slavery? hehehe)
Saya dosen muda di perguruan tinggi swasta di Semarang, gaji di bawah Rp 1 juta, selama 2 tahun pertama.
Setelah diakui sebagai golongan 3a, gaji Rp 1,2 juta.
Setelah diakui sebagai golongan 3c, gaji bisa di atas 2,5 juta.
Saya baru sampai golongan 3a, untung lagi studi ke luar negeri, jadi gaji rendah kaga kerasa.
Gaji dosen Rp 1 juta kaya gini, tidak memungkinkan aku punya kredit rumah. Pasti bank langsung nolak.
Nyekolahin anak? Kayanya istri juga harus cari kerja, deh.
Untuk penelitian,
negara memberi dana 10 hingga 100 juta rupiah per tahun, yang dananya turun suka telat 6 bulan, dan dipotong hingga 30%. Lalu dosen diminta segera membuat laporan. Juga wajib menandatangani kuitansi penerimaan dana.
Laporan apaan? Laporan fiktif? Lalu digerebek KPK kaya Profesor ITB kemarin?
Kalau dana penelitian dari kampus, hanya Rp 10 juta per tahun.
Dosen harus berproyek untuk menjalankan grup penelitiannya dan menghidupi keluarganya.
Jadi kalau mahasiswa merasa kesepian ditinggalkan dosen, karena para dosen pada berproyek, yah, maaf-maaf saja.
-Condro-
murid Pak Armein
February 19, 2009 at 9:53 am
Tulisan Pak Armein mulai nyebar tuh lewat milist, dan dapat tanggapan dari mana-mana. Tidak lama, pihak rektorat akan mulai bersuara. Maju terus pak Armein…!
February 19, 2009 at 1:36 pm
Waah.. ternyata sudah rame
Pak, saya yang nyebarin tulisan bapak ini di milis2, mohon izin ya pak (walaupun telat :p)
Terus berkarya pak! Saya selalu belajar dari bapak
February 19, 2009 at 2:53 pm
@Iscab :
Gak usah balik ke Indonesia aja yuk !
Toh berkarya bisa di mana aja ( ini Pak Tunggal lho yang pernah bilang )…
May 7, 2012 at 7:15 pm
Wah Pak Tunggal balik ke Elektro ITB, setelah jadi kaya raya dari IBM…….hehe (piss pak)…..
February 19, 2009 at 4:46 pm
@Haldi: pantesan, saya sempat heran, mengapa posting bulan lalu mendadak jadi top posting. Bagus juga, membuat orang berpikir dan mencari solusi bersama. salam saya
February 20, 2009 at 2:29 am
@ Nugie:
Pengennya sih kaga balik ke Indonesia.
Tapi tanggung jawab kepada para mahasiswaku di Indonesia membuatku harus balik ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Selain itu, Indonesia punya kekayaan alam dan kekayaan kreasi yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis. Ini yang penting.
February 20, 2009 at 1:43 pm
“Tentu tidak boleh kita hanya mengeluh tanpa menawarkan solusi. Menurut saya harus dikembangkan konsep innovation university. Apa itu? Tunggu postingnya…”
Setelah diskusi di milist, kesimpulan/solusinya segera di-posting ya Pak…
February 21, 2009 at 10:45 am
Bravo bang Armein !
Saya kira the best solution adalah seperti
yang diungkapkan dalam salah satu posting
di IA-ITB@yahoogroups.com:
Jangan jadi DOSEN MUDA, langsung saja
jadi DOSEN TUA (seperti saya…….) hehehe.
Kalo’ DOSEN TUA “masa-depan”-nya tinggal
cari tanah kapling 2X2 meter saja ………..
itu pun konon sudah mulai susah loh!
February 25, 2009 at 6:23 pm
Kutipan: “Gaji memang kecil. Tapi ITB memfasilitasi dosennya untuk berjuang mencari dana program dari berbagai sumber. Kemudian ITB membebaskan dosen untuk mengelolanya sehingga penghematan bisa dilakukan. Dari penghematan ini dosen bisa mendapatkan insentif yang mencukupkan kebutuhannya.”
Komentar:
Saya penasaran Pak, bukankah proses “penghematan” yang Bapak gambarkan di atas sama saja dengan bahasa halus dari korupsi? Kalau dana program memang tidak punya pengeluaran terlalu besar, artinya anda tidak berhak meminta total dana yang terlalu besar. Dana masuk = dana keluar, titik. Dana keluar, memang termasuk “honor peneliti”, tapi itu harus jelas persentasinya. Bukan begitu?
Dosen muda mungkin memang bisa dibilang bernasib lebih “sial”, karena harus aktif saat ekonomi Indonesia tidak cerah. Tapi, saya masih belum bisa melihat argumen kuat di artikel anda di atas, saat anda menyatakan keberatan dg “accountability”.
Gea Parikesit
February 26, 2009 at 7:29 am
@Gea. Saya ambil contoh ilustrasi saja ya. Di tahun 1988, tim peneliti kami di ITB melakukan “Bidding” ke PT Telkom untuk mengupdate Terminal teletype sebuah Sentral Telepon di Jawa Timur. Kami tahu Terminal ini sudah tidak diproduksi lagi, jadi kalau minta dibuatkan pada vendor aslinya bisa berharga seratus jutaan. Kami Bid sekitar Rp 25juta, dan Telkom setuju dan memberikan kontrak pada kami. Kami berhasil buat di lab dengan harga sebuah PC dan modifikasinya. Biaya kami sekitar kurang dari Rp 10jt. Setelah dipotong 17% oleh ITB, sisanya kami boleh bawa pulang buat istri di rumah. Ini sistem yang dulu yang menurut saya ini tidak koruptif. Kalau menurut Gea, ITB harus bid ke Telkom kurang Rp 10 jt kan? Saya tidak mau, karena kompetitor kita tidak ada yang bisa mengalahkan Rp 25jt itu. Salam saya.
February 26, 2009 at 12:53 pm
saya belum kawatir pak…..soalnya saya mau jadi dosen tapi di dearah saya (SULUT)….bukang di bandung.heheheheheh…tapi sekarang masi dalam proses pendaftaran sih…..heheheheh
August 18, 2009 at 10:09 am
saya dosen PTN di jawa tengah, jabatan : asisten ahli
pendapatan : alhamdulillah 2 juta per bulan.
sore hari dari jam 4 saya berjualan singkong goreng di belakang kampus sampai jam 10 malam. pembelinya ya mahasiswa2.
hidup luar biasa bukan?
February 16, 2010 at 5:32 pm
Ulasannya menarik sekali pa, masukan berarti bagi saya yang sedang memikirkan untuk kembali ke itb untuk menjadi dosen muda.
Sebelum berangkat ke luar negri untuk belajar, saya pernah 4 tahun ikut mroyek dengan dosen. Jadi kurang lebih sudah paham dengan kondisi kerja tambahan di itb.
Saat ini saya sedang berada dalam pilihan meneruskan bekerja sebagai peneliti di luar atau kembali. Keinginan saya kembali tidak terlepas dari ajakan untuk pulang dan mengabdi sebagai dosen.
Awalnya mungkin agak ideal pikiran saya, bahwa bisa pulang membawa ide dan pengalaman yang diperoleh untuk diterapkan di Indonesia. Pikiran untuk cari pekerjaan tambahan sudah dibuang jauh-jauh, yang diinnginkan nantinya adalah mengajar dan melakukan penelitian. Sekarang ada pencerahan, bahkan kalaupun nantinya akan cari kerja tambahan, setelah baca ini jadi terlihat juga kalau pilihan yang ada sebagai dosen ternyata jadi semakin sempit dengan adanya peraturan pemotongan 60%.
Tujuan saya ingin menekuni tugas utama sebagai dosen, tetapi dengan kondisi gaji seperti ini membuat saya mengurungkan niat. Mungkin terdengar cengeng, tapi badan yang dibawa sudah bukan satu lagi sekarang.
salam,
February 17, 2010 at 5:36 am
keep posting pak…
untuk ukuran bandung, 8 juta masih relevan kayaknya pak
kalau dana penelitian yang susah keluar, begitu juga dana untuk unit mahasiswa-> mengembangkan potensi anggotanya
alhamdulillah, beasiswa pendidikan lumayan di itb
jangankan dosen yang mengeluh, mahasiswa juga mengeluh dengan biaya hidup yang pas-pasan t.t
March 13, 2010 at 6:47 pm
pendapat yg sangat menarik.tapi dosen itu pekerjaan yg menarik kok.ngajar di banyak tempat ajah biar dapat banyak uang.
July 22, 2010 at 10:43 am
Saya baru keterima cpns dosen golongan IIIb……ngacirrrr ah…
August 11, 2010 at 2:59 pm
wah, kasian deh mendengar cerita Pak Armien dan keluhan para dosen muda padahal amanat di dalam Undang-Undang Anggaran untuk pendidikan harus 20 % dari APBD maupun APBN , tapi kenapa kesejahteraan para dosen nya tidak diperhatikan ya? gimana mau konsentrasi menjadi pendidik yang berkualitas, kalau masih mikirin kebutuhan dasar. Mungkin juga perlu dikembangkan jiwa enterpreneur kali ya.Mudah2an Pemerintah dapat merealisasikan amanat undang2 , amien
January 6, 2011 at 5:59 am
tahun 2011 ini saya pernah di-interview untuk jadi dosen tetap S-1 (pendidikan saya S-2) di daerah bekasi sekitarnya ditawarkan gaji Rp 1,6 juta/bulan kalo mau lebih dikit ngajar extention jadinya masuk jam 8 pagi pulang jam 10 malam non-stop…melihat postingan tulisan di atas bunyinya
“Coba lihat harga sandang pangan papan hari ini? Kehidupan sehari-hari keluarga dosen muda menuntut biaya hidup mencapai lebih dari Rp 7 juta/bulan. Rumah di kawasan Gunung Batu sudah memasuki angka Rp 1 milyar. Mobil Kijang Innova sudah tiba di Rp 175 juta. Padahal gaji mereka paling-paling Rp 5-6 juta/bln ”
saya jadi sedihhhhhh banget…sampe keluar air mata…(beruntung sekali dengan penghasilan seperti itu)
saya memang cuma lulusan S-2 dari universitas top 50 dunia menurut QS_World_University_Rankings_top500 2010. Mohon maaf saya tidak bermaksud untuk dikasihani tetapi saya ingin share aja…karna jujur aja saya sepertinya sulit sekali hidup berkeluarga di Jakarta dengan gaji Rp 1,6 juta/bulan dengan fasiilitas yang harus saya sediakan sendiri (notebook, transport, ngontrak rumah petak, dll).
April 19, 2011 at 3:06 pm
Ijin copy paste artikel ini ya pak…
Makasih
Sumbernya saya tulis kok
(baca: alamat blog ini)
March 27, 2012 at 9:54 am
Sekarang ini justru lebih menarik mengajar di Universitas Swasta. Gaji di Universitas Swasta, seperti IT Telkom, startnya saja bisa 3-4 kali gaji di Universitas Negeri, Jika di PTN startnya 3 juta, silahkan hitung gaji Universitas Swasta … (Note: memang tidak semua Universitas Swasta mampu bayar tinggi; tergantung juga jurusannya.)