Ada kejadian lucu di rumah hari Mingu kemarin. Marco sedang di WC, lalu Gladys memainkan lampu nya dari luar. Ia marah berat dan menangis meraung-raung. Biasanya kita membujuk si bungsu ini. Tapi kali ini saya membiarkannya. Setengah jam dia menangis-nangis dari dalam toilet sampai bosan sendiri.
Setelah selesai nangis, saya menghampirinya. “Marco kan udah kelas tiga, kenapa masih cengeng kayak bayi?”
Matanya mendelik protes. Mengapa kali ini tidak ada yang datang untuk membujuknya? Lucu melihat ekspresinya. Tapi rupanya dia sadar. Cuma soal lampu saja nangis kayak gitu. Setengah jam, coba.
Sudah dua hari ini dia masuk sekolah lagi. Senang sekali rupanya, karena dia kelas tiga sekarang. Badannya sudah sebahu Ina. Rupanya guru kelasnya mengajarkan yel-yel kelas tiga. Dia ulang-ulang di rumah. Bangga sekali, karena dia merasa besar. Dan tentu saja berhenti jadi crying baby. “Marco jangan suka cengeng lagi ya..”. Ia mengangguk malu sambil tidak senang diungkit-ungkit peristiwa di toilet itu.
Tapi saya pikir kita juga sering begitu kok. Cengeng, ya. Hehehe. Meratapi sesuatu yang sepele. Mari kita juga grow up. Seperti Marco
July 15, 2008 at 10:18 am
haha sama ya, putra kami juga sudah dua hari ini jadi ‘anak kelas tiga’. dia cengengnya nggak terlalu keliatan (mungkin karena anak sulung), tapi semangat isengnya itu lho nggak tahan.. sampai dia sendiri sering harus menanggung akibatnya (= dicederai si adik yg terus2an diisengi)…
July 15, 2008 at 10:41 am
Nice story Pak Armein .. Ayo Dik Marco jangan menangis meraung-raung lagi ya, hehe ..
July 16, 2008 at 4:19 pm
hoho.. mari, pak.. =D