Orang bisa tertarik pada banyak lawan jenis.  Pada fase attraction, naluri fisik kita memang memegang peranan penting.  Tapi pada Tahap II, komitmen, kita harus menggunakan otak kita.  Komitmen kita hanya pada spesifik orang tertentu.

Di fasa ketertarikan, kita dipengaruhi perasaan senang.  Terkesan.  Bahkan jatuh cinta.  Ini di luar kekuasaan kita.  It just happens, karena daya tarik yang kuat.  Oleh sebab itu, suka ada orang yang bingung.  Kok senang pada si A, si B, dan si C.  Bagaimana dong?  Ya santai saja, karena bisa jadi ketiga-tiganya akhirnya tidak cocok.  Malah kalau diburu-buru, langsung menikah misalnya, orang bisa menyesal.  Rasa ketrtarikannya perlahan luntur oleh realitas perkawinan.

Untku memasuki fase ke II, kita harus menggunakan pertimbangan yang sehat.  Ini tentang membangun hubungan yang kekal.  Membangun rumah tangga.  Membangun perkawinan yang diikat hukum.  Kita memasuki ranah yang berimplikasi luas.

Pertanyaan yang harus di jawab, apakah kita berdua bisa sehidup-semati?  Apakah kita bisa saling mengikat diri?  Apakah kita bisa bersepakat?  Apakah kita bisa membuat peraturan bersama yang ditaati berdua?

Memang orang bisa mencari tanda-tanda ajaib, atau supra natural.  Apakah ini jodoh kita?  Apakah ini lah dia yang diciptakan Tuhan untuk saya?  Saya senang kalau bisa menjawab pertanyaan supranatural ini.  Tapi seringkali saya merasa Tuhan menyuruh kita untuk pakai otak, dan jawab sendiri.

Di tahap kedua ini kita bersepakat untuk membangun hubungan.  Membangun keluarga.  Jadi mungkin istilah pacaran sudah tidak tepat.  Ini seperti tunangan atau persiapan penikahan.  Ya memang, puncak dari Fase II ini adalah pernikahan resmi.

Makanya kalau pacaran, anda jangan mengisinya dengan kegiatan yang tidak berguna untuk mengenali karakter pasangan anda.  Apalagi telalu banyak kegiatan fisikal yang hanya akan mengaburkan akal sehat dan bahan pertimbangan anda.  Saat harus memutuskan menikah atau tidak, anda bingung.  Ya pantas aja bingung, wong tidak mengenal karakternya.

Nah, saya suka garuk-garuk kepala kalau mendengar orang bingung mau menikah: pilih si A atau si B ya?  Pertanyaan ini hanya cocok di Fase I: attraction.  Kalau di Fase II kita tidak bertanya seperti itu untuk menikah.  Saya pikir kalau ini terjadi, mendingan dua-duanya jangan.  Kita belum punya informasi yang pas.

Apa saja bahan pertimbangan itu?  Ide dari posting sebelumnya juga bisa di pakai.  Tapi saya ingin menekankan pada karakter.  Kesediaan untuk bersepakat hidup bersama.  Kesediaan untuk membangun fiundasi, tiang, dinding, dan atap berumah tangga.  Kesediaan untu merumuskan bersama aturan, aturan yang memerdekakan tentu saja.

OK, uraian di atas kok kering ya?  Nggak romantis.

Look, justru itu.  Di fase dua ini kita jatuh cinta dengan akal budi, bukan ketertarikan fisik lagi.  You love him or her because of his/her personality.  Ini bukan cinta yang gampang luntur.  Ini bukan cinta yang harus ditopang dengan make-ups, baju bagus, badan langsing, atau hidung mancung.  Ini cinta yang tidak bisa dipatahkan atau diterobos orang lain.  Karena ini cinta yang menggunakan kekuatan karakter.  Anda jatuh cinta pada kepribadian, pikiran, dan sifat-sifatnya.  Tidak ada makeups di situ, tidak ada kepura-puraan di situ.

Dan tidak mudah menemukan orang seperti ini.  Orang cakep yang membuat kita ternganga itu lumayan banyak din sekitar kita.  Tapi karakter yang membuat kita ingin hidup bersamanya itu sangat sedikit.

Anyway, dan ini yang tidak disadari banyak orang.  Orang sibuk mempercantik wajah tapi lupa mempercantik karakter.  Ia berhasil hebat di fase satu tapi gagal di fase dua.

Saya pikir fase 2 ini lebih indah dari fase 1.  Di fase dua ini anda menemukan kepastian dan komitmen.  Anda menemukan si dia yang mencintaimu tidak ada habisnya.  Anda menemukan berlian yang kekal.  Di tangan dia, jatuh cinta dikonversi menjadi kebahagiaan.  Di fase ini, kerutan di pipi, memutihnya uban, rontoknya rambut di kepala, membesarnya pinggang, menjadi tidak relevan atau justru menambah rasa cinta dan sayang.

Oleh sebab itu, setiap saya melihat pemberkatan nikah, akad nikah, saat dua orang bersepakat di depan Tuhan dan orang banyak untuk membangun bahtera rumah tangga, saya tidak sanggup menahan airmata saya.  So happy for themSo happy that I have one too


  1. “Tapi seringkali saya merasa Tuhan menyuruh kita untuk pakai otak, dan jawab sendiri”

    Pendapat saya, ini tidak Alkitabiah Pak … :-)
    Bukankah Dia adalah pencipta nikah (mengadakan nikah)? Sebagaimana Dia menciptakan nikah pertama, Adam dan Hawa?
    Kedua, pikiranmu bukanlah pikiranKu, begitu kata salah satu nats Alkitab, lupa ayatnya euy he he he …
    Bisa jadi itu, baik menurut otak kita, tetapi justru itu malah bertentangan dengan kehendak Allah, ini pengalaman saya …

    “Rasa ketrtarikannya perlahan luntur oleh realitas perkawinan.”

    Ini memang masalah terbesar sebagian besar nikah manusia, justru di sinilah, Tuhan mengadakan mujizat pertama dan terbesar, karena nikah tidak lagi manis, melainkan menjadi tawar … karena kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi dalam kehidupan nikah.

  2. Pardi

    “Tapi seringkali saya merasa Tuhan menyuruh kita untuk pakai otak, dan jawab sendiri”

    Menurut saya itu ada benarnya….

    Yang salah itu, kalau kita mengambil keputusan itu pada saat hubungan kita dengan Tuhan sedang tidak dekat (baik) atau tidak beres.
    Jadinya apa yang kita putuskan dengan pikiran kita jadi salah karena kita diluar “medan” nya Tuhan… :)

    Trus harus di ingat juga, bahwa Tuhan memberikan manusia itu Otak, Pikiran atau lebih tepatnya “Hati Nurani” supaya kita bisa memilih apa yang benar dan mengambil keputusan apa yg harus kita lakukan…
    Makanya juga ada dibilang …”Hendaklah engkau bijak…. :-)

  3. Erwin

    “Tapi seringkali saya merasa Tuhan menyuruh kita untuk pakai otak, dan jawab sendiri”

    Saya juga setuju dengan ini. Sudah ada pedomannya kok, “seiman dan sepadan”.

    Di fase 1 ketika akan memilih melanjutkan ke tahap 2, di sini kita harus melihat kesepadanan. Di sini kita harus berdoa untuk bisa memilih bukan yang baik menurut kita, tapi yang terbaik menurut Tuhan. Baik bukan berarti tidak ada masalah. Tapi kita bisa mencapai potensi maksimal yang Tuhan telah tentukan untuk kita. Soalnya kalo nggak sepadan repot deh…..

  4. aduh.. koq ruwet ya?
    apa sekarang jam 4 pagi dan saya belum tidur jadi tidak bisa mencerna tulisan bapa ini? :D
    (ini excuse lagi, ahhh.. )

  5. “Tapi seringkali saya merasa Tuhan menyuruh kita untuk pakai otak, dan jawab sendiri”

    hmm kadang saya yakin bahwa manusia tidak dibiarkan untuk menjawab sendiri begitu saja, saya yakin Tuhan memberi banyak tanda-tanda, seperti sebuah clue atas sebuah persoalan, tinggal manusianya peka dengan tanda-tanda itu atau tidak, disinilah otak diuji.

    Saya juga sepakat membuat diri kita menarik juga tidak cukup, tapi meyakinkan pasangan kita kalo kita menarik itu bukan hal yang mudah juga, apalagi kalo menariknya apa adanya. Kadang prinsip bisnis dimana kemasan harus menarik tidak bisa diimplementasikan dlm kasus ini, karena kita tidak sedang mencari banyak pembeli, tapi mencari satu pembeli, tapi yang pasti tidak ada unsur pemaksaan dan manipulasi. Love is free, love will not going anywhere and will back to you if it belongs to you, serve for your love, you will deserve more




Leave a Comment