Belakangan ini begitu banyak seminar tentang industri kreatif.  Memasuki ekonomi kreatif, Indonesia tidak mau ketinggalan.  Tapi khas Indonesia: yang dikerjakan itu ya seminar.  Nah yang membuat saya sering tertegun, kita membicarakan industri kreatif di dalam acara dan suasana yang formal dan tidak menarik.  Tidak kreatif.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan seminar.  Desember lalu saya diundang di seminar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, di Aula Barat.  Saya sangat terkesan, karena terasa sekali denyut dan energi kreativitas.  Meskpun format seminar itu standar, tapi diisi dengan berbagai kreasi.  Seorang penyair bukannya pidato malah baca puisi dan berdeklamasi.  Seorang pembicara menyelingi presentasinya dengan peragaan busana.  Pembicara lain, seorang fotografer ternama, membuat slide yang memukau.

Nah orang-orang seperti di seminar FSRD ini yang layak bicara tentang industri kreatif.

Berbeda, misalnya, dengan seminar dengan topik serupa yang diselenggarakan oleh pejabat dan birokrat. Wah, kering.  Isinya data-data dan informasi.  Disampaikan dengan formal.  Naskah dibaca.  Powerpoint berpuluh-puluh slides, dengan tulisan-tulisan kecil-kecil.  Untuk topik lain, ini wajar dan efektif.  Tapi untuk topik membangun industri kreatif, ini sebenarnya maksa dan anti-kreatif.

Pada prinsipnya proses tidak boleh dipisahkan dari substansi.  Topik dan cara penyampaian harus selaras.  Seminar tentang idnustri kreatif harus sarat dengan kreativitas itu sendiri.


  1. Isinya data-data dan informasi.

    itu pun banyak yg ngambil dari hasil kerja orang lain, tanpa diberi kredit sedikitpun…

  2. @ tita, kalau yg presentasi pejabat yg disuruh ngambil pasti bawahannya … lengkap sudah (ketidak-) kreatif (-annya) he he he …

  3. betul
    mengaku content kreatif, mana dipercaya kalo kemasan penyajiannya ga kreatip

    tapi blog azrl ini relatif standar (eh maap loh hehehehe), contoh, header ga pernah ganti. namun kenapa hitsnya sedemikan? krn isinya kan? ya, isi tetap no 1 koq.




Leave a Comment