Dulu pejabat pemerintah senang tampil intelek. Supaya terlihat seperti orang kampus. Kata-kata yang dipilh, buku yang dibaca, tampilan yang dicitrakan, semua memberi kesan civitas perguruan tinggi. Sekarang berubah. Orang kampus ingin tampil seperti pejabat. Gaya, cara berpikir, bahkan nilai-nilai pejabat mulai dianut warga kampus (baca: dosen).
Semua orang ingin tumbuh dan berkembang. Ia ingin lebih baik dari hari kemarin. Ia ingin, sejalan dengan pertambahan umur, bertambah pula tingkat status kebesarannya.
Tumbuhan bertumbuh menuju matahari. Di mana ada matahari, di situ ada pusat kehidupan. Ia memerlukan matahari untuk fotosintesis. Jadi berkembanglah ia menuju matahari. Itulah sebabnya pohon tumbuh ke atas, bukan ke bawah. Karena pusat kehidupan, di mata tanaman, adalah matahari.
Secara tidak sadar, manusia juga berusaha bertumbuh mencari pusat kehidupan. Ia mencari kemuliaan. Di benaknya ada tangga abstrak, tangga yang tidak terlihat mata, yang ia perlu tapaki. Tangga menuju kemuliaan.
Tapi beda orang, beda tangga. Beda kultur, beda tangga. Beda profesi, beda tangga. Beda panggilan hati, beda tangga. Beda jati diri, beda tangga.
Seorang petenis profesional akan melihat tangga sampai ke Wimbledon, US Open, dan sebagainya. Pemain sepak bola melihat tangga Liga Nasional, Liga Eropa, sampai ke World Cup. Pastor Katholik akan melihat tangga sampai ke Vatikan. Barack Obama akan melihat tangga dari sekolah hukum sampai ke gedung putih.
Hmm, mungkin memang ada kultur kita yang menjadikan istana sebagai pusat kehidupan. Pada masa lalu, segala yang exciting ada di istana atau kraton. Perubahan dimulai dari istana. Jadi kita mencari tangga untuk menuju inti dari kraton. Sikap ini terbawa sampai sekarang, sehingga dosen merambah dunia pemerintahan.
Apa seharusnya tangga bagi warga kampus? Apa pusat kehidupannya?
Ada tiga, yakni tridharma perguruan tinggi: pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Satu variasi dari itu adalah scholarships (menghasilkan orang terdidik, supaya orang tidak norak), knowledge generation (mengembangkan ilmu pengetahuan, supaya orang tidak bengong/apa-apa bingung), dan wealth generation (membangun kemakmuran masyarakat, supaya orang tidak kere).
Tridarma ini yang membentuk tangga emas bagi warga kampus, terutama dosen.
Tentu bisa seorang dosen membantu pelaksanaan pemerintahan, khususnya pada bidang yang menjadi keahliannya. Tapi saya kira nilai, sikap dan gaya kita jangan berubah menjadi pejabat. Tetap sebagai warga kampus.
July 4, 2008 at 11:50 am
Kalau akhirnya warga kampus tidak bisa mempengaruhi gaya hidup pejabat, tetapi malah sebaliknya, maka apakah misi kampus gagal ?
Saya masih ingat pidato Pak Liliek Hendrajaya, tahun 1997, sewaktu masih menjadi rektor ITB. Beliau berkata : ITB harus bisa mempengaruhi gaya hidup masyarakat sekitarnya.
Kalau di area dosen, gaya hidupnya sudah mulai mirip pejabat, berarti berdasarkan apa yang dikatakan beliau, di kalangan dosen semangat itu gagal.
Semoga pak Armein ga seperti itu….
July 4, 2008 at 11:13 pm
hehehe.. saya suka variasinya.. lebih gamblang..
July 7, 2008 at 10:56 am
Dijamin pak armein mah gak termasuk seperti itu. Lihat saja penampilannya, gaul habis… gaya anak muda. Ya gak, pak? hehehehe. Akhirnya kami-kami juga menjadi tidak sungkan, dan terkesan tidak birokratis. Tapi karena kemampuan dan gaya khas pak armein lah, tangganya mudah didaki. yang muncul dari berbagai penjuru.