Impian (4)

Setelah punya (1) Visi (the dream), (2) Missi (the ideal job), dan (3) keyakinan (have faith) maka kita perlu langkah ke empat: (4) mensyukuri (be grateful).  Saya yakin, ini kita sudah sering dengar.  Tapi yang saya mau usulkan mungkin kita jarang dengar: bersyukur sebelum mimpi itu terwujud.

Kita sering mengecam orang yang kurang bersyukur.  Sudah mendapat berkat, tapi tidak bersyukur.  Orang yang sudah mendapat berkat perlu bersyukur. Tapi saya ingin mengajak kita melangkah lebih jauh lagi.  Mari kita belajar bersyukur sebelum mendapat berkat.

Ide dasarnya adalah pada langkah ke (3) tadi, kita sudah minta itu pada Tuhan, tanya itu pada teman-teman, pesan itu pada industri.  Dan kita punya keyakinan, one way or another, kita akan mendapatkannya.  Sudah disiapkan.  Order sudah disampaikan.

Di meja saya ada sebuah buku sangat tebal, berjudul 30,000 years of art.  Saya memesannya dari Amazon, dan dikirim lewat Fedex/DHL.  Pada saat saya membeli buku dari Amazon, buku itu tidak langsung datang.  Ada yang datang dalam tiga-empat hari, ada yang sebulanan, bergantung pilihan shipping. Bergantung saya mau bayar berapa ongkos kirimnya.  Tapi begitu pembelian sudah confirm, saya menerima email ucapan terimakasih untuk pembelian saya.

Demikian juga impian kita itu.  Saat kita memintanya, maka itu mulai disiapkan.  Dibentuk, dan didelivery.  Kapan dia datang, bergantung berapa effort yang kita mau keluarkan (ongkos kirim) dan berapa besar rasa terimakasih kita.

Rasa beryukur dan terimakasih itu luar biasa.  Punya kesaktian.  Ia bisa menggerakkan dan mempercepat proses pembentukan impian dan deliverynya.

Sebagai contoh, ucapan terimakasih yang sederhana, tulus disertai senyuman akan membuat petugas yang melayani kita bekerja semakin senang dan gesit.  Saat dosen berterimakasih pada mahasiswa karena sudah berpartisipasi dengan baik dan menjaga ketertiban kuliah atau ujian akan membuat mahasiswa semakin giat dan tertib di kelas.  Saya ngaku, komentar-komentar yang membesarkan hati dan berterimakasih membuat saya semangat menulis blog ini.

Bersyukur itu benar-benar powerful.

Sevbaliknya, tidak adanya rasa syukur bisa menghalangi prosesnya.  Pikiran negatif, kecemasan, ketidak sabaran justru bisa membuat proses pencapaian mimpi ini lama.  Kita harus buang pikiran negatif jauh-jauh.  Suruh pergi, seperti tamu yang tidak diundang.

Bersyukur itu adalah dasar dari berpikir positif.  Kecemasan adalah dasar dari berpikir negatif. Berpikir positif, penuh curiosity, mengalahkan kekuatiran dan kecemasan.  Seperti terang yang selalu mengalahkan kegelapan.

Saat kita bersyukur, kita menerangi pikiran kita.  Seperti lampu yang menyala di dalam ruangan.  Sehingga kita terlepas dari kegelapan dan kecemasan.

Untuk menolong kita agar bisa selalu bersyukur, saya pikir kita perlu mengelilingi hidup kita dengan keistimewaan dan kebesaran.  Bisa hal yang sederhana, misalnya kenakan baju yang bagus.  Rapikan penampilan.  Kendarai motor atau mobil yang dicuci bersih dan mengkilap.  Tidur di kamar tidur yang rapi dan bersih.

Atau hal yang lebih rumit.  Bergaul dengan orang-orang yang berkepribadian istimewa.  Baca buku berkualitas.  Mendengar lagu dan musik yang bagus-bagus.  Menikmati karya sening yang masterpiece. Rutin baca blog ini, hehehe.

Point saya: lakukan sesuatu dengan istimewa dan kelilingi hidup kita dengan hal yang istimewa.  Istimewa tidak harus mahal, tapi pasti tidak murahan.

Ini akan membuat kita berada dalam lingkungan positif, yang memudahkan kita selalu bersyukur.  Bersyukur untuk mimpi yang akan terwujud.


  1. Tenang saja, Pak… Saya rutin kok baca blog ini. Hehehe…

  2. Romy

    Saya juga rutin baca blog ini lho pak.. hehehe…

    sometimes, mengucapkan syukur itu sangat sulit pak..
    untuk masalah yang sama saja, terkadang saya bisa mengucap syukur, terkadang tidak.. but… still learning and fighting to give thanks in every single little thing..

  3. “Rutin baca blog ini, hehehe. ”

    ujung2nya ga enak ha ha ha..
    ini persis apa kata Oprah, dia begitu terkesan ketika berkunjung ke pemukiman miskin di Africa, ada ibu2 memasang renda2 untuk tempat tinggal yg ga layak disebut tempat tinggal. membuat perbedaan yang cantik.

    betul, kita harus bisa hargai diri sendiri, meski tidak usah mahal. ini yang namanya elegan.

    btw, bapa curang, ga pernah balik berkunjung ke blog2 dan berkomen2.. hayooo..

  4. Saya bersyukur bisa baca blog ini tiap hari Pak ! …

  5. saya bookmark blog Bapak juga deh :P
    sebagai syukur saya karena blog Bapak banyak memberikan inspirasi dan juga memberikan banyak hikmah hehe :D

  6. rullyfajri

    Saya Setuju sekali Pak!

  7. yani

    terima kasih sudah mengingatkan..saya bersyukur menemukan blog ini..

    terima kasih..

  8. azrl

    @all: wah thanks so much, Saya tahu kok, kan dari hitsnya,pasti ada yang baca rutin. Terimakasih banyak.
    @Romy: ia justru itu, menurut saya lebih lagi, bersyukur sebelum berkat itu datang.
    @Ayi: hehehe, maklum, memang nggak tahu kenapa tahu-tahu keluar kalimat gitu. Datang kok nengok. Tapi sabar ya, semua ada waktunya :-)

  9. tukangbaca

    Nah, pak kalo ini juga dibahas di the science of success. katanya dengan kekuatan bersyukur kita juga seolah olah menarik kembali pikiran pikiran dengan frekuensi yang sama.

    Silahkan baca buku the science of success nya james arthur Ray deh pak. Mungkin bapak akan sangat setuju dengan ide2 dia.

  10. impian mm banyak hal yang perlu dibicarakan.

  1. 1 Dari Axis ke Flash? « Ayi Purbasari

    [...] Axis ini tidak memuaskan, putus-putus dan putus. Baru bukan website, sudah putus. Baru nulis comment ke blognya pa Armein, putus juga. Alhasil.. saya ga tahu apa bisa disebut lumayan (mau murah tapi mau kualitas, dasar [...]




Leave a Comment