Seorang ibu tua guru SMP kemarin membuat saya tergagap.  Saya menghadiri Seminar ITB di Sabuga kemarin, karena begitu banyak yang ingin bertanya tapi waktu terbatas.  Para pembicara adalah pemimpin bangsa: Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Panglima TNI.  Mendadak nama saya dipanggil moderator.  Walah, sambil menuju ke mikrofon, saya putar otak mau bicara apa?

Benak saya sebenarnya sudah penuh dengan isu-isu untuk dilontarkan. Masalahnya penanya pertama, seorang ibu, berhasil menyadarkan saya betapa banyak masalah nyata yang dihadapi masyarakat.   Sementara Ketua DPD dan Ketua DPR mengeluh akan lemahnya tatanegara kita.  Masih banyak institusi politik yang harus dibenahi.

Untuk memimpin masyarakat, kita perlu membangun insitusi masyarakat.  Tapi saat terjadi kekosongan institusi, maka peran pemimpin menjadi besar.  Di sini peran kenegarawan jadi penting.  Pemimpin tidak boleh memanfaatkan kelemahan institusi untuk memperjuangkan kepentingan golongan.  Justru keahlian pemimpin untuk manuver justru dimaksudkan untku kebaikan semua.

Sepuluh tahun lalu, reformasi terjadi dengan mundurnya Presiden Suharto.  Di jaman Presiden Habibie, kita melakukan pemilu demokratis yang pertama.  Semua menyangka akan terjadi kekacauan, karena ratusan juta rakyat masih belum dewasa.  Saya nyaris menangis terharu melihat rakyat dengan tulus menjalankan tugas demokrasinya, menyoblos dengan tertib, dan menerima hasilnya dengan lapang.  So proud to be an Indonesian.

Tapi kemudian saya menyaksikan elit politik yang malah gagal mengimbangi kedewasaan rakyat.  Partai Megawati saat itu menang secara pluralitas, sama dengan kemenangan Hade di Jawa Barat beberapa waktu lalu .  Tapi di Sidang MPR terjadi manuver untuk meluncurkan Gus Dur sebagai presiden.  Megawati gagal jadi presiden.  Tapi sebenarnya kita saat itu gagal meletakkan konvensi politik nasional dalam momen yang kritis.

Tetapi dua tahun kemudian terjadi lagi manuver politik.  Gus Dur dilengserkan melalui proses impeachement.  Tidak melalui pemilu.  Saya ada di San Francisco waktu itu dan nyaris menangis melihat Presiden Wahid, Presiden Republik Indonesia, dihentikan sebelum waktunya tanpa pemilu.  Megawati jadi presiden.  Wah… Trus ngapain waktu itu capek-capek?

Memang ini demonstrasi keahlian bermanuver.  Tapi di situlah kegagalan elit politik.  Gagal membaca kehendak rakyat.  Manuver politik untuk kepentingan golongan memanfaatkan kelemahan insitusi inilah yang membuat sepuluh tahun reformasi belum membawa hasil maksimal.

Jadi ucapan ibu guru ini, yang berapi-api, membuat saya terbangun dari mimpi.  Saya tiba di depan mikropon dengan pikiran blank.  Tapi dengan kesadaran bahwa apapun wacana kita, kepentingan rakyatlah yang terpenting, bukan wacana, kekuasaan, apalagi ideologi sempit.


  1. Ayi Purbasari

    pa, ibu itu nanya apa?

  2. tita

    iya pak, apa kata ibu itu?

  3. azrl

    Agak panjang, jadi saya agak lupa detailnya. Ibu itu menjelaskan menghilangnya minyak membuat keluarga mereka tidak bisa masak, dan harus beli makan di luar. Dan uang gaji guru tidak cukup untuk beli, sehingga tidak bisa makan tiga kali sehari. Dia minta anggaran pendidikan 20% APBN direalisasikan, karena aneh biaya pendidikan menjadi mahal tapi gaji guru kurang. Dia bilang biaya kesehatan terlalu mahal. Pada dasarnya dia bertanya bagaimana ada harapan masa depan bagi kita semua kalau keadaannya begini?

    Ibu ini menyampaikan hal ini setelah para pembicara asik berbicara tentang masalah kemajemukan, masalah lemahnya institusi, dan betapa mereka sebagai pemimpin seperti tidak berdaya membereskan banyak permasalahaan institusional (tapi masih pengen menjabat :-) ).

Leave a Comment